Satuan Komando Lapangan (SKL) sebagai badan otonom dari
Himpunan Mahasiswa Geologi (HMG) Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin adalah
salah satu organisasi internal HMG yang saya ikuti. Kegiatan-kegiatan yang yang
berorientasi keilmuan khususnya yang berhubungan dengan manajemen lapangan
sering dilakukan. Pada kesempatan kali ini SKL mengadakan Operasi Lintas Medan
Sabtu-Minggu (Operasi Lima Tugu) pada daerah Kabupaten Barru Sulawesi Selatan.
Setelah semua persiapan lapangan sesuai standar yang
ditetapkan SKL, kamipun berangkat menuju lokasi. Peserta Kegiatan ini adalah 5
orang anggota aktif SKL Kak Werna, Kak Fadliah, Afdan, Herwin termasuk saya
sendiri, 2 orang anggota non aktif terima kasih untuk Koko Anca dan Kak Bay,
Wakil Panglima dan salah satu warga geologi (terima kasih kepada kanda Nurul Ilmi). Perjalanan dilakukan pada pukul
14.00 dari kampus Unhas Tamalanrea dengan jarak kurang lebih 125 Km dan
membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam menggunakan kendaraan motor. Beruntung kami
berangkat pada saat cuaca cerah. Kami tiba di kampus lapangan geologi unhas
yakni dusun Daccipong Kab. Barru. Istirahat sejenak untuk persiapan besok, dan
sekedar melihat kembali jalur yang akan kami lalui esok. Ini nih petanya. Wah lumayan
juga yah jalurnya, dengan skala 1:25.000 perjalanan ini akan melewati 3 bukut
sekaligus yakni B. Salebbi, B. Palakka, dan B. Lasitae (Bulu = Bukit), ini dia
petanya :

Wah
petanya masih menggunakan peta belanda kontur keriting tapi ini lebih akurat bro
Dan perjalanan pun dimulai, oke ini adalah operasi pertama
saya setelah basis anggota di SKL. Menyesal juga nda sempat ikut operasi merah
putih pengibaran bendera di bawakaraeng dan Lompobattang bersama teman-teman. Dan
seperti biasa kami lakukan ormed sebelum melewati the first challenge, yaitu B.
Salebbi untuk mencari jalan masuk menuju Salebbi tersebut. Ok lanjut bang kite
lagi dimana ini. Thanks berat buat koko ancha sama kak bay yang bantu ormed. Posisi
awal sudah ditentukan, setelah itu harus ormed dan menentukan posisi sendiri ya
dek. Ok, bang.

Akhirnya kamipun masuk ke lokasi, dan benar saja perjalanan
menuju Salebbi lumayan juga, melewati medan yang cukup terjal dengan vegetasi
yang cukup lebat. Artinya mau tidak mau parang dalam tas kami keluarkan untuk
membuka jalur bagi permaisuri-permaisuri geologi kita. Heheheh enak ya jadi
cewek geologi, tidak dibukakan jalur sama teman cowoknya, modal kasih semangat
aja cukup ya dek. Hehehe maafkan saya komandan.
Bukan namanya geologi kalau nggak ketemu singkapan dalam
perjalanan. Beberapa singkapan batuan kami jumpai dalam perjalanan menaklukan
bukit pertama ini. Antara lain, batuan endapan laut dangkal berupa batugamping
dengan struktur bioturbasi yang mengindikasikan bahwa batugamping yang
terbentuk masih dekat dengan sumber pembentuknya, yakni fisl-fosil foraminifera
yang menyebabkan tekstur bioturbasi ini. Berbeda dengan batugamping yang
strukturnya berupa lapisan dan kurang dijumpai fosil makro yang masih utuh yang
merupakan hasil rombakan. Selain itu, dijumpai batuan sedimen berupa batupasir,
dengan kandungan non karbonatan yang mengindikasikan bahwa batuan ini terbentuk
di darat. Sangat menarik, pada daerah yang sama kami dapat menjumpai dua
litoogi dengan lingkungan yang berbeda. Berdasarkan geologi regional daerah
ini, batupasir yang merupakan formasi mallawa berumur lebih tua, artinya hal
yang mungkin terjadi pada daerah ini proses penurunan daratan menjadi laut
dangkal.

Setelah mencapai puncak Salebbi disini kami menemukan
litologi berupa trakit, yang merupakan batuan beku tipe aliran namun dijumpai
dalam kondisi mengintrusi batuan sampingnya. Lha kok ada batuan tipe aliran namun
mengintrusi batuan lain. Hehehe bias saja donk, namun intrusinya hanya bersifat
local saja dan termasuk tipe intrusi dangkal artinya sumber magmanya tidak jauh
dari permukaan. Salah satu bukti bahwa batuan ini mengintrusi batuan samping
berupa batugamping adalah pada daerah ini kami jumpai batugamping berwarna
hitam akibat proses pembakaran oleh magma yang sangat panas saat terjadinya
intrusi. Pada daerah Barru ini banyak dijuapi intrusi dangkal seperti ini. Biasanya
pada daerah yang banyak dijumpai intrusi seperti ini daerah ini termasuk fasies
medial atau proksimal dalam pembagian fasies gunung api. Artinya sumber atau
pusat semburan masih cukup jauh. Bias jadi magma berasal dari gunung api camba,
namun bias jadi pula hal ini terjadi karena gejala tektonik penurunan daratan
yang saya jelaskan tadi.

Wah tambah semangat saya dengar penjelasan kak werna tentang
keunikan batuan di daerah operasi kami ini. Ok kita jalan lagi bang. Apalagi litologi
di daerah operasi kite. Tapi ngomong-ngomong kite lagi dimana nih, ormed dulu
bang. Udah bias dong ormed sendiri, kan sudah di refresh tadi caranya ngormed hehehehe.

Wah maksudnya apaan nih bang, cara nunjuknya kok gitu. Koko ancha
bilang “what are the fucking location on this point, come on this point is very
wonderfull lithologic location full of tectonic and structural reconstruction”.
Hehehe ampuni kami koko. Oke jangan kelamaan ormednya. Come on, kita lanjut
lagi, batuan yang lain sedang menunggu. Tapi tidak terasa ternyata waktu
enunjukan pukul 11.45. Wah tanpa perlu komando wapang, udah jelas kita akan ke
sumber air terdekat dari posisi sekarang. Pantas lama tadi ormednya, ternyata
mode self protection from dehydration and hungry sedang on pada kakak-kakak
(makannya sering ikut operasi dek). Akhirnya saya dan herwin turun untuk
mencari sumber air terdekat, dan pilihannya adalah sungai dengenge, salah satu dari
the most amazing river in Barru area (Katanya). Ok istirahat dulu bang. Kasih keluar
ransum makan siang na bilang chef fadliah hehehe.

Sungai dengenge seperti yang saya katakana tadi kawan,
ternyata tidak bohong apa yang di bilang orang. Maka pantaslah pak Kahar selaku
dosen petrologi membawa kami menyusuri sebagian dari sungai denge-nge ini dalam
fieltrip petrologi. Bagaimana tidak, sungai ini adalah salah satu sungai
terpanjang di Kab. Barru. Mengalir dari kaki B. Palakka dan hilirnya pada
daerah Sikappa dekat dengan Jalan poros Makassar Pare-Pare. Yang lebih anehnya
lagi, meskipun daerah Barru terkenal dengan kompleksnya batuan Sulawesi, namun
sungai ini konsisten tersusun oleh singkapan Sekis, batuan metamorf yang
merupakan batuan basement dari pulau Sulawesi itu sendiri bahkan menjadi salah
satu batuan basement yang sering dijumpai pada beberapa daerah di Indonesia
bahkan di Dunia. Kami membayangkan daerah ini sebagai daerah lingkungan palung laut
terdalam dari samudra. Saya termenung melihat awan-awan dilangit sana, dan
membayangkan disanalah seharusnya Bulu Salebbi berada, karena jarak antara
lingkungan daratan tersingkapnya formasi mallawa dan sungai dengenge tempat
kami makan siang ini adalah berkilokilo meter jauhnya. Brakkkk. Saya dikagetkan
oleh chef, katanya saya terlalu lama melamun dan mengambil air. Rupaya tingkah
saya sudah dibaca oleh kakak-kakak. Kak fadliah bilang kita masih akan
menemukan another miracle in this mission. Hehehe ok kak. Saatnya makan kan. Ittadakimast.
Jangan lupa shalat juga bang.
Kita lanjut lagi bang, kami menyusuri sungai dengenge
(sdikit). Dan menjumpai litologi sekis sepanjang sungai ini. Kami juga
menjumpai singakapan batuan mirip rijang, namun terlihat seperti batulempung
pejal. Apabila kami lakukan sampling dengan chisel, terlihat warna kehitaman
metalik pada pecahannya. Batuan ini masih tergolong batuan metasedimen. Dimana material-material
lempung terendapkan bersama material pembentuk rijang yakni radiolaria. Akibat desakan
dari lempeng-lempeng yang bertabrakan, batuan yang terbentuk berupa batulempung
merah ini mengalami metamorfisme. Namun tingkat metamorfisme masih rendah
sehingga tidak sempat membentuk muskovit sebagai penciri mineral batuan
metamorf. Kami terus menyusuri sungai untuk mencari jalan naik menuju bukit tantangan
kedua yakni Bulu Lasitae. Lama juga kami menaiki kaki bukit ini. Selain mengandalkan
pengetahuan mengenai kemampuan interpretasi batuan, kepampuan manajemen
perjalanan juga sama pentingnya denga kemampuan lain. Dengan memiliki kemampuan
manajemen lapangan kita mampu mencapai target tertentu yang harus dicapai dalam
mengcover seluruh lokasi yang diberikan. Sedikit improvisasi dari jalur yang
telah ditentukan bias dilakukan dengan memperhatikan kondisi medan dan peserta
yang ikut dalam operasi kali ini.

Setelah makan siang sepanjang perjalanan kami focus dalam
pencarian jalur yang baik untuk rombongan. Say thanks to the leader team Afan
dan Herwin. Sabar yah bro buka jalurnya. sepanjang perjalanan kami lalui medan
dengan lereng yang cukup terjal lebih terjal lagi dibandingkan menaiki bulu
salebbi. Dengan vegetasi yang cukup lebat, berupa semak berduri dan pohon-pohon
yang besar. Medan yang kami lalui berupa litologi sekis, dengan soil yang cukup
lebat.
Hari mulai menjelang malam, dan kami harus mencari tempat
camp. Tempat camp kami dibawah kaki bukit lasitase. Waktu-waktu seperti ini
dimanfaatkan untuk persiapan kegiatan malamnya. Hal-hal seperti mendirikan
tenda, mengambil air bersih secukupnya dan persiapan makan malam pun harus
dilakukan. Salah satu etika lapangan yang saya pelajari di SKL adalah dahulukan
kepentingan bersama. Tapi setelah kami keluarkan semua barang bawaan kami ada
yang kurang, yaitu gelas untuk minum beserta sendok untuk makan. Wah sepertinya
hal sepele, tapi kalau dalam kondisi berada di lokasi ini penting sekali. Koko Ancha
marah mendengar hal ini. Ini bukan berkaitan dengan barang bawaan yang sepele
yang dilupa bawa, tetapi menyangkut prinsip kerja lapangan. Artinya secara
tidak langsung ada penilaian bahwa manajemen persiapan yang sangat kurang,
seharusnya cek alat kelengkapan dilakukan sebelum ke lokasi. Untungnya dekat
camp ada pohon bamboo. Batang pohon bamboo dipotong dan dijadikan gelas dan
sendok. Lumayan banyak waktu yang kami habiskan untuk membuat ini. Matriks untuk
bersih-bersihpun menjadi terganggu. Kami mandi setelah maghrib, yang seharusnya
bias dilakukan setelah mempersiapkan alat. Ok kamipun mendapat pelajaran lagi,
manfaatkan waktumu bang.


Setelah makan malam, tiba waktunya kami pada kegiatan
terakhir hari ini, yakni refleksi malam. Dalam refleksi malam kami
mendiskusikan apa yang seharian kami lakukan tadi, batuan yang kami jumpai. Sempat
juga berdebat mengenai tekstur klastik pada batugamping, dan terbentuknya
intrusi pada Salebbi termasuk kendala yang kami hadapi seperti bagaimana leader
yang baik, pencarian jalur yang benar, dan berbagai etika lapangan lainnya, dan
yang paling parah tentunya manajemen persiapan yang sempat disinggung tentu
harus menjadi pelajaran yang tidak akan kami lupakan samapai sekarang ini. Tak terasa
seiring berjalannya diskusi kami, waktu menunjukan pukul 00.15. Kami harus
instirahat malam untuk persiapan esoknya menuju bukit tertinggi di wilayah
Timur Kampus lapangan yakni B. Lasitae dengan segala cerita mistisnya.

Berlanjut ke Part (2)------à
Tidak ada komentar:
Posting Komentar