Selasa, 06 Januari 2015

Operasi SKL, Ultrabasa Bulu Palakka, Saksi Sejarah Terangkatnya Kerak Samudra di Sulawesi



Satuan Komando Lapangan (SKL) sebagai badan otonom dari Himpunan Mahasiswa Geologi (HMG) Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin adalah salah satu organisasi internal HMG yang saya ikuti. Kegiatan-kegiatan yang yang berorientasi keilmuan khususnya yang berhubungan dengan manajemen lapangan sering dilakukan. Pada kesempatan kali ini SKL mengadakan Operasi Lintas Medan Sabtu-Minggu (Operasi Lima Tugu) pada daerah Kabupaten Barru Sulawesi Selatan.
Setelah semua persiapan lapangan sesuai standar yang ditetapkan SKL, kamipun berangkat menuju lokasi. Peserta Kegiatan ini adalah 5 orang anggota aktif SKL Kak Werna, Kak Fadliah, Afdan, Herwin termasuk saya sendiri, 2 orang anggota non aktif terima kasih untuk Koko Anca dan Kak Bay, Wakil Panglima dan salah satu warga geologi (terima kasih kepada kanda  Nurul Ilmi). Perjalanan dilakukan pada pukul 14.00 dari kampus Unhas Tamalanrea dengan jarak kurang lebih 125 Km dan membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam menggunakan kendaraan motor. Beruntung kami berangkat pada saat cuaca cerah. Kami tiba di kampus lapangan geologi unhas yakni dusun Daccipong Kab. Barru. Istirahat sejenak untuk persiapan besok, dan sekedar melihat kembali jalur yang akan kami lalui esok. Ini nih petanya. Wah lumayan juga yah jalurnya, dengan skala 1:25.000 perjalanan ini akan melewati 3 bukut sekaligus yakni B. Salebbi, B. Palakka, dan B. Lasitae (Bulu = Bukit), ini dia petanya :
Wah petanya masih menggunakan peta belanda kontur keriting  tapi ini lebih akurat bro
Dan perjalanan pun dimulai, oke ini adalah operasi pertama saya setelah basis anggota di SKL. Menyesal juga nda sempat ikut operasi merah putih pengibaran bendera di bawakaraeng dan Lompobattang bersama teman-teman. Dan seperti biasa kami lakukan ormed sebelum melewati the first challenge, yaitu B. Salebbi untuk mencari jalan masuk menuju Salebbi tersebut. Ok lanjut bang kite lagi dimana ini. Thanks berat buat koko ancha sama kak bay yang bantu ormed. Posisi awal sudah ditentukan, setelah itu harus ormed dan menentukan posisi sendiri ya dek. Ok, bang.
 
Akhirnya kamipun masuk ke lokasi, dan benar saja perjalanan menuju Salebbi lumayan juga, melewati medan yang cukup terjal dengan vegetasi yang cukup lebat. Artinya mau tidak mau parang dalam tas kami keluarkan untuk membuka jalur bagi permaisuri-permaisuri geologi kita. Heheheh enak ya jadi cewek geologi, tidak dibukakan jalur sama teman cowoknya, modal kasih semangat aja cukup ya dek. Hehehe maafkan saya komandan.
Bukan namanya geologi kalau nggak ketemu singkapan dalam perjalanan. Beberapa singkapan batuan kami jumpai dalam perjalanan menaklukan bukit pertama ini. Antara lain, batuan endapan laut dangkal berupa batugamping dengan struktur bioturbasi yang mengindikasikan bahwa batugamping yang terbentuk masih dekat dengan sumber pembentuknya, yakni fisl-fosil foraminifera yang menyebabkan tekstur bioturbasi ini. Berbeda dengan batugamping yang strukturnya berupa lapisan dan kurang dijumpai fosil makro yang masih utuh yang merupakan hasil rombakan. Selain itu, dijumpai batuan sedimen berupa batupasir, dengan kandungan non karbonatan yang mengindikasikan bahwa batuan ini terbentuk di darat. Sangat menarik, pada daerah yang sama kami dapat menjumpai dua litoogi dengan lingkungan yang berbeda. Berdasarkan geologi regional daerah ini, batupasir yang merupakan formasi mallawa berumur lebih tua, artinya hal yang mungkin terjadi pada daerah ini proses penurunan daratan menjadi laut dangkal.
 
Setelah mencapai puncak Salebbi disini kami menemukan litologi berupa trakit, yang merupakan batuan beku tipe aliran namun dijumpai dalam kondisi mengintrusi batuan sampingnya. Lha kok ada batuan tipe aliran namun mengintrusi batuan lain. Hehehe bias saja donk, namun intrusinya hanya bersifat local saja dan termasuk tipe intrusi dangkal artinya sumber magmanya tidak jauh dari permukaan. Salah satu bukti bahwa batuan ini mengintrusi batuan samping berupa batugamping adalah pada daerah ini kami jumpai batugamping berwarna hitam akibat proses pembakaran oleh magma yang sangat panas saat terjadinya intrusi. Pada daerah Barru ini banyak dijuapi intrusi dangkal seperti ini. Biasanya pada daerah yang banyak dijumpai intrusi seperti ini daerah ini termasuk fasies medial atau proksimal dalam pembagian fasies gunung api. Artinya sumber atau pusat semburan masih cukup jauh. Bias jadi magma berasal dari gunung api camba, namun bias jadi pula hal ini terjadi karena gejala tektonik penurunan daratan yang saya jelaskan tadi.
   
Wah tambah semangat saya dengar penjelasan kak werna tentang keunikan batuan di daerah operasi kami ini. Ok kita jalan lagi bang. Apalagi litologi di daerah operasi kite. Tapi ngomong-ngomong kite lagi dimana nih, ormed dulu bang. Udah bias dong ormed sendiri, kan sudah di refresh tadi caranya ngormed hehehehe.
  
Wah maksudnya apaan nih bang, cara nunjuknya kok gitu. Koko ancha bilang “what are the fucking location on this point, come on this point is very wonderfull lithologic location full of tectonic and structural reconstruction”. Hehehe ampuni kami koko. Oke jangan kelamaan ormednya. Come on, kita lanjut lagi, batuan yang lain sedang menunggu. Tapi tidak terasa ternyata waktu enunjukan pukul 11.45. Wah tanpa perlu komando wapang, udah jelas kita akan ke sumber air terdekat dari posisi sekarang. Pantas lama tadi ormednya, ternyata mode self protection from dehydration and hungry sedang on pada kakak-kakak (makannya sering ikut operasi dek). Akhirnya saya dan herwin turun untuk mencari sumber air terdekat, dan pilihannya adalah sungai dengenge, salah satu dari the most amazing river in Barru area (Katanya). Ok istirahat dulu bang. Kasih keluar ransum makan siang na bilang chef fadliah hehehe.
Sungai dengenge seperti yang saya katakana tadi kawan, ternyata tidak bohong apa yang di bilang orang. Maka pantaslah pak Kahar selaku dosen petrologi membawa kami menyusuri sebagian dari sungai denge-nge ini dalam fieltrip petrologi. Bagaimana tidak, sungai ini adalah salah satu sungai terpanjang di Kab. Barru. Mengalir dari kaki B. Palakka dan hilirnya pada daerah Sikappa dekat dengan Jalan poros Makassar Pare-Pare. Yang lebih anehnya lagi, meskipun daerah Barru terkenal dengan kompleksnya batuan Sulawesi, namun sungai ini konsisten tersusun oleh singkapan Sekis, batuan metamorf yang merupakan batuan basement dari pulau Sulawesi itu sendiri bahkan menjadi salah satu batuan basement yang sering dijumpai pada beberapa daerah di Indonesia bahkan di Dunia. Kami membayangkan daerah ini sebagai daerah lingkungan palung laut terdalam dari samudra. Saya termenung melihat awan-awan dilangit sana, dan membayangkan disanalah seharusnya Bulu Salebbi berada, karena jarak antara lingkungan daratan tersingkapnya formasi mallawa dan sungai dengenge tempat kami makan siang ini adalah berkilokilo meter jauhnya. Brakkkk. Saya dikagetkan oleh chef, katanya saya terlalu lama melamun dan mengambil air. Rupaya tingkah saya sudah dibaca oleh kakak-kakak. Kak fadliah bilang kita masih akan menemukan another miracle in this mission. Hehehe ok kak. Saatnya makan kan. Ittadakimast. Jangan lupa shalat juga bang.
Kita lanjut lagi bang, kami menyusuri sungai dengenge (sdikit). Dan menjumpai litologi sekis sepanjang sungai ini. Kami juga menjumpai singakapan batuan mirip rijang, namun terlihat seperti batulempung pejal. Apabila kami lakukan sampling dengan chisel, terlihat warna kehitaman metalik pada pecahannya. Batuan ini masih tergolong batuan metasedimen. Dimana material-material lempung terendapkan bersama material pembentuk rijang yakni radiolaria. Akibat desakan dari lempeng-lempeng yang bertabrakan, batuan yang terbentuk berupa batulempung merah ini mengalami metamorfisme. Namun tingkat metamorfisme masih rendah sehingga tidak sempat membentuk muskovit sebagai penciri mineral batuan metamorf. Kami terus menyusuri sungai untuk mencari jalan naik menuju bukit tantangan kedua yakni Bulu Lasitae. Lama juga kami menaiki kaki bukit ini. Selain mengandalkan pengetahuan mengenai kemampuan interpretasi batuan, kepampuan manajemen perjalanan juga sama pentingnya denga kemampuan lain. Dengan memiliki kemampuan manajemen lapangan kita mampu mencapai target tertentu yang harus dicapai dalam mengcover seluruh lokasi yang diberikan. Sedikit improvisasi dari jalur yang telah ditentukan bias dilakukan dengan memperhatikan kondisi medan dan peserta yang ikut dalam operasi kali ini.
Setelah makan siang sepanjang perjalanan kami focus dalam pencarian jalur yang baik untuk rombongan. Say thanks to the leader team Afan dan Herwin. Sabar yah bro buka jalurnya. sepanjang perjalanan kami lalui medan dengan lereng yang cukup terjal lebih terjal lagi dibandingkan menaiki bulu salebbi. Dengan vegetasi yang cukup lebat, berupa semak berduri dan pohon-pohon yang besar. Medan yang kami lalui berupa litologi sekis, dengan soil yang cukup lebat.
Hari mulai menjelang malam, dan kami harus mencari tempat camp. Tempat camp kami dibawah kaki bukit lasitase. Waktu-waktu seperti ini dimanfaatkan untuk persiapan kegiatan malamnya. Hal-hal seperti mendirikan tenda, mengambil air bersih secukupnya dan persiapan makan malam pun harus dilakukan. Salah satu etika lapangan yang saya pelajari di SKL adalah dahulukan kepentingan bersama. Tapi setelah kami keluarkan semua barang bawaan kami ada yang kurang, yaitu gelas untuk minum beserta sendok untuk makan. Wah sepertinya hal sepele, tapi kalau dalam kondisi berada di lokasi ini penting sekali. Koko Ancha marah mendengar hal ini. Ini bukan berkaitan dengan barang bawaan yang sepele yang dilupa bawa, tetapi menyangkut prinsip kerja lapangan. Artinya secara tidak langsung ada penilaian bahwa manajemen persiapan yang sangat kurang, seharusnya cek alat kelengkapan dilakukan sebelum ke lokasi. Untungnya dekat camp ada pohon bamboo. Batang pohon bamboo dipotong dan dijadikan gelas dan sendok. Lumayan banyak waktu yang kami habiskan untuk membuat ini. Matriks untuk bersih-bersihpun menjadi terganggu. Kami mandi setelah maghrib, yang seharusnya bias dilakukan setelah mempersiapkan alat. Ok kamipun mendapat pelajaran lagi, manfaatkan waktumu bang.
       
Setelah makan malam, tiba waktunya kami pada kegiatan terakhir hari ini, yakni refleksi malam. Dalam refleksi malam kami mendiskusikan apa yang seharian kami lakukan tadi, batuan yang kami jumpai. Sempat juga berdebat mengenai tekstur klastik pada batugamping, dan terbentuknya intrusi pada Salebbi termasuk kendala yang kami hadapi seperti bagaimana leader yang baik, pencarian jalur yang benar, dan berbagai etika lapangan lainnya, dan yang paling parah tentunya manajemen persiapan yang sempat disinggung tentu harus menjadi pelajaran yang tidak akan kami lupakan samapai sekarang ini. Tak terasa seiring berjalannya diskusi kami, waktu menunjukan pukul 00.15. Kami harus instirahat malam untuk persiapan esoknya menuju bukit tertinggi di wilayah Timur Kampus lapangan yakni B. Lasitae dengan segala cerita mistisnya.
    
Berlanjut ke Part (2)------à

Tidak ada komentar:

Posting Komentar